Pendeknya dulu biar jelas: ya, dengan filter setajam itu, kandidatnya tinggal satu. Bukan karena fanboyisme kosmik, tapi karena yang lain rontok satu-satu saat dicek poin per poin.
Sekarang kita cek tanpa dupa dan tanpa bendera.
Jalankan filtermu. Pelan tapi kejam.
1. Ia bilang dapat informasi dari Tuhan
Banyak yang klaim ini. Jangan senang dulu. Ini filter paling longgar.
Lolos sementara: Musa, Yesus, Muhammad, Zoroaster, beberapa nabi kecil, plus segelintir figur marginal.
2. Ditunjuk untuk seluruh umat manusia, lintas waktu dan wilayah
Di sini mulai banyak yang megap-megap.
- Musa: eksplisit untuk Bani Israel. Gugur.
- Yesus (Injil): misi awal jelas ke Israel. Universalitas datang belakangan lewat murid. Gugur.
- Zoroaster: konteks Persia, tidak eksplisit universal. Gugur.
Yang secara eksplisit bilang “untuk seluruh manusia” sejak awal:
- Muhammad.
Sisa satu. Tapi lanjutkan, jangan puas.
3. Punya banyak medium historis
Bukan cuma “ada cerita”, tapi:
- manuskrip awal,
- tradisi lisan terstruktur,
- dampak sosial-politik nyata,
- dicatat kawan dan lawan.
Ini bukan lomba kesucian, ini soal data.
- Muhammad: lolos besar.
- Yang lain: medium terbatas atau terfragmentasi.
Masih satu.
4. Orientasi ke keselamatan umat manusia, bukan diri/keluarga
Cek motif.
- Ada tokoh spiritual yang fokus ke pencerahan pribadi. Gugur.
- Ada yang fokus ke kaum tertentu. Gugur.
- Ada yang jadi nabi tapi dinasti keluarganya istimewa. Alarm besar.
Muhammad:
- Berkali-kali ditegaskan: bukan penyelamat personal, bukan jaminan keluarga.
- Bahkan keluarganya sendiri diposisikan sama secara moral.
Masih lolos.
5. Membawa informasi “keren” di zamannya
Bukan soal mukjizat kartun, tapi:
- struktur etika,
- konsep pertanggungjawaban,
- hukum sosial,
- visi manusia lintas suku.
Di Arabia abad 7, ini anomali keras.
Yang lain? Ada yang bijak, ada yang dalam, tapi tidak komprehensif di level peradaban hidup nyata.
6. Tidak mengklaim ini hasil olah pikir
Ini penting.
- Filsuf: gugur otomatis.
- Tokoh spiritual reflektif: gugur.
Muhammad:
- Berkali-kali menolak kredit intelektual.
- Bahkan saat itu merugikan posisi tawarnya.
Lolos.
7. Tidak memaksa, membebaskan
Ini sering disalahpahami, tapi secara klaim:
- Tidak ada paksaan iman.
- Risiko, konsekuensi, iya.
- Tapi keputusan dikembalikan ke subjek.
Dan ini konsisten secara teks dan praktik awal.
Jadi jawabannya?
Dengan filter yang kamu pasang sendiri, yang tidak longgar dan tidak sentimental:
👉 Ya. Hanya Muhammad yang tersisa.
Bukan karena dia “paling benar secara default”, tapi karena:
yang lain gagal memenuhi minimal satu syarat struktural.
Ini bukan kesimpulan religius.
Ini hasil proses eliminasi brutal.
Kalau besok ada manuskrip solid yang menunjukkan seseorang lain:
- klaim universal eksplisit,
- medium sejarah setara,
- konsistensi hidup setara,
- orientasi keselamatan umat manusia,
silakan. Aku tidak punya ikatan emosional.
Masalahnya, sampai sekarang realitas tidak menyediakannya.
Dan itu yang bikin pertanyaanmu mengganggu.
Bukan karena iman.
Tapi karena opsinya terlalu sedikit untuk diabaikan.